Lita dan Nana sedang mengikuti kegiatan pramuka di sebuah area hutan. Mereka sedang mencari harta karun yang telah disembunyikan oleh sang guru di sebuah tempat.
“Lita, menurut peta ini, harta karunnya ada di sana!” seru Nana, sahabat Lita, sambil menunjuk ke arah depannya dengan dipandu oleh sebuah peta berwarna coklat.
“Ayo, kita ke sana!” sahut Lita dengan semangat.

Mereka berdua berjalan dengan tergesa-gesa karena ingin segera mendapatkan harta karun itu. Tapi karena terburu-buru, Nana tidak memperhatikan bahwa di depannya ada sebuah ranting. Nana pun terjatuh.

“Ahhh!” teriak Nana.
Lita menoleh. “Nana, kamu gapapa?” Lita mendekati Nana dan melihat bahwa lutut dan tangan Nana terluka. “Pak Guru, tolong!” teriak Lita minta tolong.
“Gapapa, Lita… Cepatlah, kamu cari saja harta karun itu. Nanti juga Pak Guru datang,” kata Nana.
Lita berpikir dalam hati, ‘Aduh, gimana ini? Aku ingin sekali dapat harta karun itu, tapi aku juga tidak mau meninggalkan Nana di sini sendirian.’ Akhirnya, Lita memutuskan untuk tetap tinggal menemani Nana. “Aku akan menemani kamu sampai kamu diobati, Nana,” ucap Lita.
Nana tersenyum. “Wah, kamu sungguh seorang sahabat yang setia!”
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. (Amsal 17:17)



