Itu Kan Buku Kesukaanku

Setelah liburan panjang, Lita dan Feli kembali masuk ke sekolah. Karena rumah mereka berdekatan, mereka pulang berjalan bersama.

Feli, bagaimana liburanmu? Apakah kamu sudah selesai baca buku cerita yang aku pinjamkan waktu itu?” sapa Lita.

Liburanku menyenangkan sekali. Cerita dalam buku kamu sangat menarik. Tapi …” Feli terdiam sejenak.

Tapi kenapa, Feli?

Tapi aku tidak tahu di mana meletakkan bukumu, Lita. Jadi sekarang bukumu hilang. Maafkan aku ya, Lita.

Dengan kesal Lita berkata, “Itu kan buku kesukaanku, Feli.

Sesampainya Lita di rumah.

Eh Lita sudah pulang, nih. Bagaimana kelas pertama setelah liburan?” sambut Mama Lita.

Aku kesal, Ma. Masa buku kesukaanku yang aku pinjamkan ke Feli hilang.

Oh lalu bagaimana, Lita?” jawab Mama dengan nada lembut.

Feli minta maaf sih. Tapi tetap aja aku kesal. Itu kan buku kesukaanku.

Oh begitu. Lalu apakah kamu memaafkan Feli?

Tidak, Ma. Lita kesal sekali.

Lita, masih ingat dengan ‘Doa Bapa Kami’?” tanya Mama.

“Tentu ingat dong ma.”

Di dalam ‘Doa Bapa Kami’, ada satu kalimat ‘Ampunilah kami akan kesalahan kami’. Lalu apa lanjutannya Lita?

Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” jawab Lita.

Betul sekali Lita. Jadi apa yang akan terjadi kalau kita tidak mengampuni kesalahan orang lain?

Lita terlihat terdiam dan merenung. “Tuhan tidak mengampuni kesalahan kita, Ma.

Betul Lita. Jadi kita harus saling memaafkan. Bukankah Feli juga teman baik kamu dari kecil? Dan buku cerita itu, masih bisa dibeli lagi bukan?

Iya, Ma. Terima kasih ya, Ma sudah menyadarkan Lita. Besok Lita akan sampaikan kepada Feli deh kalau Lita sudah memaafkannya,” kata Lita dengan senyum yang mulai terbit di wajahnya.

Puji Tuhan. Sekarang kita makan siang, yuk. Kamu pasti sudah lapar, kan,” ajak Mama kepada Lita.

dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Mat 6:12)

Invalid email address